Penerimaan bahan baku dan bahan kemas merupakan tahap awal yang sangat penting dalam rantai produksi farmasi, karena kualitas produk akhir sangat dipengaruhi oleh kualitas material yang diterima. Pada materi ini akan dibahas pengertian bahan baku (raw material) sebagai komponen utama pembentuk produk, serta bahan kemas (packaging material) yang berfungsi melindungi, menjaga stabilitas, dan memberikan identitas produk. Peserta juga akan memahami peran penting personel produksi dan personel gudang dalam memastikan material yang diterima sesuai dengan standar yang ditetapkan. Risiko utama dalam tahap penerimaan seperti mix-up, kontaminasi, kerusakan fisik, maupun material yang tidak sesuai spesifikasi menjadi fokus utama untuk dipahami sejak awal.
Proses penerimaan material di gudang harus mengikuti alur yang sistematis dan terdokumentasi dengan baik untuk menjamin ketertelusuran serta integritas material. Dalam sesi ini akan dibahas tahapan mulai dari kedatangan personel gudang, pemeriksaan dokumen pendukung, pemeriksaan fisik material, verifikasi label, hingga pemberian identitas internal setelah material diterima. Setelah semua tahapan selesai dan dinyatakan sesuai, material akan ditempatkan di area penyimpanan yang sesuai dengan status dan persyaratan penyimpanannya. Pemahaman terhadap alur ini penting untuk mencegah kesalahan yang dapat berdampak pada proses produksi berikutnya.
Pemeriksaan dokumen menjadi langkah krusial untuk memastikan kesesuaian antara material fisik dan dokumen pendukungnya. Materi ini akan membahas dokumen-dokumen yang wajib diverifikasi seperti Delivery Order, Packing List, dan Manufacturing Batch Record, serta parameter penting yang harus diperiksa seperti nama material, nomor analisa, kode material, nomor batch/lot, jumlah, dan tanggal kedaluwarsa atau retest date. Selain dokumen, kondisi fisik material juga harus diperiksa secara detail, termasuk kondisi kemasan, integritas seal, label, kerusakan fisik, hingga kondisi palet. Peserta juga akan mempelajari contoh temuan umum seperti drum penyok, seal rusak, label tidak terbaca, atau karton basah yang dapat menjadi indikasi adanya masalah pada material.
Untuk memastikan pengendalian material tetap terjaga, sistem identifikasi dan pelabelan menjadi bagian penting dalam operasional gudang. Pada materi ini akan dibahas penggunaan nomor identifikasi internal, kode material, hingga sistem barcode sebagai sarana traceability. Selain itu, peserta akan memahami status pelabelan seperti release, hold, dan reject sebagai dasar pengambilan keputusan terhadap penggunaan material. Seluruh proses penerimaan harus didukung dengan dokumentasi yang akurat melalui logsheet atau dokumen serah terima yang diverifikasi dengan paraf, tanggal, dan insial personel terkait. Sebagai penutup, materi ini akan mengulas berbagai risiko dan kesalahan yang sering terjadi dalam proses penerimaan, seperti salah material, batch tertukar, nomor analisa tidak sesuai, material yang sudah melewati masa berlaku, atau kondisi material yang tidak memenuhi spesifikasi.
